Di Suramadu, sebelum Soenarno menuju ke jembatan, ia menyempatkan mendengarkan pemaparan dari pelaksana proyek tentang proses sejarah pembangunan jembatan termasuk kiprah Soenarno saat awal-awal pembangunan.
Kepala Satuan Kerja Bentang Tengah Jembatan Nasional Suramadu, Ir Atiyanto Busono mengatakan, Soenarno terakhir menjabat sebagai Menkimpraswil saat awal masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kiprah beliau dalam pembangunan jembatan ini sangat banyak, karena ia merupakan menteri yang terlibat langsung saat awal-awal proyek fisik dimulai. “Termasuk terlibat dalam pemancangan tiang pancang bentang tengah saat pemerintahan Ibu Megawati,” katanya.
Soenarno merupakan menteri yang meniti karir dari lapangan. Insinyur sipil (UGM) yang ‘ahli air’ (IHE Delft, Netherland), ini menjalani hidup ‘laksana air mengalir’. Lebih 22 tahun, secara terus-menerus, bertugas di lapangan (proyek). Ia berhasil memimpin beberapa proyek besar dengan berbagai kesulitan teknis dan sosialnya. Karir pria Solo yang santun, rendah hati dan religius, ini mencapai puncak, jadi Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil), pada era reformasi.
Pria kelahiran Solo 19 Mei 1942 yang akrab disapa Mas Narno, merupakan pencetus program agropolitan dipedesaan. Membangun desa-desa yang menjadi pusat-pusat produksi pertanian yang beraneka-macam. Dan sekaligus membangun industri-indutri kecil yang mengolah hasil-hasil pertanian desa itu. Sehingga ada nilai tambah kepada masyarakat setempat. Dengan demikian penduduk tidak lagi terus mengalir ke kota-kota.
Saat menjabat menjadi Menkimpraswil, ia mendorong dana APBN untuk dialihkan ke daerah dan pelosok terpencil. Sehingga dengan begitu, APBN dapat bergeser ke daerah dan pulau-pulau terpencil. Pembangunan prasarana jalan ini, menjadi salah satu fokus kebijakan departemen yang dipimpinnya, di samping masalah pemukiman (perumahan) dan masalah sumber daya air. Ketiga masalah ini menjadi fokus perhatiannya, yang merupakan bagian dari empat tugas pokok departemennya (Kabinet Gotong-Royong), yakni penciptaan kondisi persatuan dan kesatuan bangsa, pemulihan ekonomi, pemberantasan KKN dan penegakan hukum.
Ketiga fokus perhatiannya langsung menyentuh kepentingan hidup masyarakat banyak. Ia memang seorang figur yang sangat peduli kepada wong cilik. Masa kecil hingga remajanya, tampaknya sangat mempengaruhi kepribadian dan kepeduliannya kepada masyarakat kurang mampu. (Tim Suramadu)




Komentar